Searching...
Minggu, 03 November 2013

Perkembangan Sosial Tunadaksa

Keanekaragaman pengaruh perkembangan yang bersifat negatif menimbulkan resiko bertambah besarnya kemungkinan munculnya kesulitan dalam penyesuaian diri pada anak-anak tunadaksa. Hal ini berkaitan erat dengan perlakuan masyarakat terhadap anak-anak tunadaksa. Sebenarnya kondisi sosial yang positif menunjukkan kecenderungan untuk menetralisir akibat keadaan tunadaksa tersebut. Nampak atau tidaknya keadaan tunadaksa tersebut merupakan faktor yang penting dalam penyesuaian diri anak tunadaksa dengan lingkungannya, karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap sikap dan perlakuan anak-anak normal terhadap anak-anak tunadaksa. Keadaan anak tunadaksa yang tidak nampak lebih memungkinkan anak untuk menyesuaikan diri dengan wajar dibandingkan apabila ketunadaksaan tersebut nampak.
                 Sikap orang tua, keluarga, teman sebaya, teman sekolah, dan masyarakat pada umumnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri anak tunadaksa. Dengan demikian akan mempengaruhi respon anak tehadap lingkungannya. Sebagaimana dimaklumi bahwa konsep diri seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya. Seseorang akan menghargai dirinya sendiri apabila lingkungannnya menghargainya, misalnya: seorang anak yang dianggap oleh masyarakat tidak berdaya akan merasa bahwa dirinya tidak berguna.
                  Ejekan dan gangguan anak-anak normal terhadap anak tunadaksa akan menimbulkan kepekaan efektif pada anak tunadaksa, yang tidak jarang mengakibatkan timbulnya perasaan negatif pada mereka terhadap lingkungan sosialnya. Keadaan ini menyebabkan hambatan pergaulan sosial anak tunadaksa.
                  Dalam jaman yang sudah demikian maju seperti sekarang ini, keberhasilan seseorang sering diukur dari prestasinya, dan di dalam masyarakat dikenal norma tertentu bagi prestasi individu. Keterbatasan kemampuan anak tunadaksa seringkali menyebabkan mereka menarik diri dari pergaulan masyarakat yang mempunyai norma prestasi yang jauh di luar jangkauannya.
                 Secara umum anak-anak normal menunjukkan sikap yang berbeda terhadap anak-anak tunadaksa bila dibandingkan dengan sikap mereka terhadap anak-anak normal lainnya. Demikian pula halnya sikap guru. Perbedaan perlakuan ini nampaknya berkaitan dengan ‘reference group’ yang berbeda antara anak normal dan anak tunadaksa.
                 Selain itu faktor usia juga merupakan hal yang penting bagi perkembangan sosial anak. Anak-anak tunadaksa dari sekolah dasar merasa tidak begitu ditolak dibandingkan dengan anak-anak tunadaksa pada sekolah yang lebih tinggi. Semakin tinggi usia seseorang maka perasaan ditolak akan semakin terasa.


                  Anak-anak tunadaksa seringkali tidak dapat berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan anak-anak seusianya, terutama dalam kelompok sosial yang sifatnya lebih resmi. Anak-anak seperti ini khususnya mereka yang karena kondisinya harus sering tinggal di rumah, menunjukkan kebutuhan untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya yang tidak cacat. Apabila mereka terlalu lama harus beristirahat di dalam rumah, maka anak ini akan mengalami deprivasi dan isolasi dari teman-teman sekolahnya, dan pada saat mereka kembali ke sekolah, mereka merasakan kecemasan terhadap cara teman-teman dalam memperlakukan mereka, menerima dan berintegrasi dengan mereka.

2 komentar:

  1. Secara keseluruhan blog ini sudah bagus. Tetapi kenapa ada sebagian tombol tidak berfungsi ? Contoh : HOME , ABOUT , Archive , Comments , dll. Mohon diperbaiki agar fungsi itu dapat dimaksimalkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kritiknya, akan segera saya perbaiki

      Hapus

 
Back to top!